Spending Vs Investing

Halaman 1 dari 2 1, 2  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

spending vs investing

Post by zulkarnainboman on Fri May 02, 2008 10:14 am

Belum lama ini seorang rekan mengatakan kepada saya bahwa di suatu
restoran di mall sedang ada paket Sensasi di mana menu Nasi Hainam
hanya dijual seharga Rp.5000. Mendengar hal ini saya dan beberapa
teman menjadi tertarik karena menurut kami sangat murah sekali.

Beberapa hari kemudian, ketika sehabis mengajar di Universitas saya
ingin membeli minuman. Karena sekarang lagi nge-trend teh hijau,
maka saya mengambil sebotol minuman teh hijau dan langsung
membawanya ke kasir. Di kasir saya bertanya dan ternyata harganya
Rp. 4500. Dalam hati saya berkata "wah, mahal juga yach"

Setelah membeli minuman tersebut, saya mengendarai mobil sambil
meminum minuman tersebut dan merenung : Nasi Hainam seharga Rp. 5000
saya bilang murah sekali, tetapi minuman yang harganya Rp.4500 saya
bilang kemahalan. Padahal minuman tersebut harganya masih lebih
murah Rp. 500 dibandingkan nasi hainam. Saya merenung kembali,
kenapa saya bisa mempunyai standar yang berbeda antara makanan dan
minuman? Kesimpulan sementara saya : jika kita sedang makan siang,
yang utama adalah makannya bukan minumnya, makanya disebut makan
pagi -makan siang - makan malam bukan minum pagi - minum siang -
minum malam. Alasan kedua : makanan lebih kita nikmati dibandingkan
minuman.

Setelah saya mendapatkan ke-2 alasan tersebut, saya merenung
kembali : makanan memang lebih kita nikmati tetapi apakah makanan
lebih penting daripada minuman. Tanpa makan tetapi tetap minum orang
bisa bertahan hidup lebih lama dibandingkan tanpa minum tetapi tetap
makan. Jadi minum lebih penting daripada makan, tetapi karena
faktor "nikmat", urusan "penting" menjadi terkalahkan.

Balik ke hidup kita, seringkali kita mengorbankan sesuatu
yang "penting" demi sesuatu yang "nikmat". Setiap hari kita memiliki
waktu 24 jam, tetapi seringkali waktu yang terbatas tersebut kita
habiskan untuk sesuatu yang nikmat dibandingkan sesuatu yang
penting. Kita seringkali lebih suka nongkrong sambil ngobrol tidak
karuan dibandingkan membaca buku atau saling bertukar pendapat
mengenai bisnis dengan teman-teman yang positif. Di rumah kita lebih
senang nonton film-film TV yang negatif dibandingkan nonton film
yang dapat memberdayakan diri kita. Kita sering kali "Spending"
waktu kita dibandingkan "Investing" waktu kita. Spending adalah
untuk sesuatu yang nikmat, sedangkan investing adalah untuk sesuatu
yang penting.

Renungkanlah waktu yang anda habiskan setiap harinya, apakah anda
sudah mengalokasikan banyak waktu untuk sesuatu yang penting? Ingat,
waktu yang sudah lewat tidak dapat dipanggil kembali.

salah satu tulisan teman
avatar
zulkarnainboman
Kode 3
Kode 3

Jumlah posting : 311
Age : 40
Registration date : 07.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by okybuntoro on Fri May 02, 2008 11:17 am

zulkarnainboman wrote:Belum lama ini seorang rekan mengatakan kepada saya bahwa di suatu
restoran di mall sedang ada paket Sensasi di mana menu Nasi Hainam
hanya dijual seharga Rp.5000. Mendengar hal ini saya dan beberapa
teman menjadi tertarik karena menurut kami sangat murah sekali.

Beberapa hari kemudian, ketika sehabis mengajar di Universitas saya
ingin membeli minuman. Karena sekarang lagi nge-trend teh hijau,
maka saya mengambil sebotol minuman teh hijau dan langsung
membawanya ke kasir. Di kasir saya bertanya dan ternyata harganya
Rp. 4500. Dalam hati saya berkata "wah, mahal juga yach"

Setelah membeli minuman tersebut, saya mengendarai mobil sambil
meminum minuman tersebut dan merenung : Nasi Hainam seharga Rp. 5000
saya bilang murah sekali, tetapi minuman yang harganya Rp.4500 saya
bilang kemahalan. Padahal minuman tersebut harganya masih lebih
murah Rp. 500 dibandingkan nasi hainam. Saya merenung kembali,
kenapa saya bisa mempunyai standar yang berbeda antara makanan dan
minuman? Kesimpulan sementara saya : jika kita sedang makan siang,
yang utama adalah makannya bukan minumnya, makanya disebut makan
pagi -makan siang - makan malam bukan minum pagi - minum siang -
minum malam. Alasan kedua : makanan lebih kita nikmati dibandingkan
minuman.

Setelah saya mendapatkan ke-2 alasan tersebut, saya merenung
kembali : makanan memang lebih kita nikmati tetapi apakah makanan
lebih penting daripada minuman. Tanpa makan tetapi tetap minum orang
bisa bertahan hidup lebih lama dibandingkan tanpa minum tetapi tetap
makan. Jadi minum lebih penting daripada makan, tetapi karena
faktor "nikmat", urusan "penting" menjadi terkalahkan.

Balik ke hidup kita, seringkali kita mengorbankan sesuatu
yang "penting" demi sesuatu yang "nikmat". Setiap hari kita memiliki
waktu 24 jam, tetapi seringkali waktu yang terbatas tersebut kita
habiskan untuk sesuatu yang nikmat dibandingkan sesuatu yang
penting. Kita seringkali lebih suka nongkrong sambil ngobrol tidak
karuan dibandingkan membaca buku atau saling bertukar pendapat
mengenai bisnis dengan teman-teman yang positif. Di rumah kita lebih
senang nonton film-film TV yang negatif dibandingkan nonton film
yang dapat memberdayakan diri kita. Kita sering kali "Spending"
waktu kita dibandingkan "Investing" waktu kita. Spending adalah
untuk sesuatu yang nikmat, sedangkan investing adalah untuk sesuatu
yang penting.

Renungkanlah waktu yang anda habiskan setiap harinya, apakah anda
sudah mengalokasikan banyak waktu untuk sesuatu yang penting? Ingat,
waktu yang sudah lewat tidak dapat dipanggil kembali.

salah satu tulisan teman



Wah dod, kalo menurut g perumpamaan harga makan nasi hainam & teh hijau gak cocok tuh buat inti ceritanya..Smile
Nasi Hainam kelihatan murah Rp.5000 krn biasanya harga jual biasanya berkisar 12.500,- sampe 15.000 an,
teh hijau kelihatan mahal Rp.4500 krn biasa beli di alfa cuman 2000,-
Jadi kelihatan murah atau mahal tergantung harga pasaran rata2 Smile
( Wah jadi inget waktu kerja di da vinci, belajar sama bos dapet barang di bawah harga pasar Smile)
avatar
okybuntoro
Kode 3
Kode 3

Jumlah posting : 255
Registration date : 04.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by Denir on Fri May 02, 2008 1:15 pm

oot dikit, postinganmu tak pindah jadi topik baru aja ya dhod
avatar
Denir
Pengangguran Terselubung
Pengangguran Terselubung

Jumlah posting : 1586
Age : 39
Lokasi : Bandung, Jawa Barat
Quote : Ayo kita susul yudi
Registration date : 02.04.08

http://www.adidharma.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by zulkarnainboman on Fri May 02, 2008 2:12 pm

Denir wrote:oot dikit, postinganmu tak pindah jadi topik baru aja ya dhod

ok
avatar
zulkarnainboman
Kode 3
Kode 3

Jumlah posting : 311
Age : 40
Registration date : 07.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by yudi on Fri May 02, 2008 2:22 pm

Ingat, waktu yang sudah lewat tidak dapat dipanggil kembali.


hmhhhhhhhhhhh hehehehehe
avatar
yudi
Iblis Lokal
Iblis Lokal

Jumlah posting : 7048
Age : 40
Lokasi : Dunia Belah Tengah
Quote : Mlaku neng Nerokooooo ....Merokoooo yeuk
Registration date : 02.04.08

http://mindstreet.wordpress.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by zulkarnainboman on Fri May 02, 2008 2:42 pm

Wah dod, kalo menurut g perumpamaan harga makan nasi hainam & teh hijau gak cocok tuh buat inti ceritanya..Smile
Nasi Hainam kelihatan murah Rp.5000 krn biasanya harga jual biasanya berkisar 12.500,- sampe 15.000 an,
teh hijau kelihatan mahal Rp.4500 krn biasa beli di alfa cuman 2000,-
Jadi kelihatan murah atau mahal tergantung harga pasaran rata2 Smile
( Wah jadi inget waktu kerja di da vinci, belajar sama bos dapet barang di bawah harga pasar Smile)[/quote]

hehhehe mungkin ga tepat tapi bagaimana kita memilih melakukan sesuatu itu yang inti
spending bisa berarti menghabiskan, membelanjakan, dll yah hasilnya bisa dinikmati saai itu juga biasanya yah lebih ke arah short time
kalo investing lebih deket ke menanam, investasi menumbuhkan hasilnya jangka panjang ga bisa dinikmati sekarang membutuhkan kesabran dll

jadi bijkasanalah terhdap waktu, uang, kebiasanan dll yang ada pada diri kita Very Happy pisss
avatar
zulkarnainboman
Kode 3
Kode 3

Jumlah posting : 311
Age : 40
Registration date : 07.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by egggggg on Fri May 02, 2008 5:40 pm

ternyata yah terbukti seumur2 kita ini mulai galau tentang kehidupan, makna hidup.....pokoknya mulai berfikir kembali tentang hal2 yang lebih filosofis
avatar
egggggg
TA
TA

Jumlah posting : 817
Age : 39
Quote : too much job will kill you
Registration date : 07.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by monimonimon on Fri May 02, 2008 10:58 pm

wal ashri..Razz
avatar
monimonimon
TA
TA

Jumlah posting : 787
Age : 39
Lokasi : Bandung
Registration date : 02.04.08

http://www.irisdesignasia.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by Denir on Sat May 03, 2008 12:12 am

egggggg wrote:ternyata yah terbukti seumur2 kita ini mulai galau tentang kehidupan, makna hidup.....pokoknya mulai berfikir kembali tentang hal2 yang lebih filosofis

ya itu wajar ga, yang dipikirin bukan cuman kita sendiri...udah punya pengikut yang janjinya langsung dibacain di depan "owner kita" hehehe

dan hidup ini nggak cuman 1, 2 taun kedepan...5 taun lagi kaya gimana, 10 taun lagi gimana, dst...
mungkin kita bisa cuek sama kondisi kita saat ini, nah tapi apa iya anak istri kita suruh cuek juga, ntar cuek cuekan dong...apalagi sampe cuek bebek...ntar jadi bebek bebekan Very Happy
avatar
Denir
Pengangguran Terselubung
Pengangguran Terselubung

Jumlah posting : 1586
Age : 39
Lokasi : Bandung, Jawa Barat
Quote : Ayo kita susul yudi
Registration date : 02.04.08

http://www.adidharma.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by Denir on Sat May 03, 2008 12:15 am

monimonimon wrote:wal ashri..Razz

wal ashri, innal insaanalafilhusr, illalladzina aamanu wa 'amilussholihaat, wa tawashabilhaq, wa tawa shoubissabr...
avatar
Denir
Pengangguran Terselubung
Pengangguran Terselubung

Jumlah posting : 1586
Age : 39
Lokasi : Bandung, Jawa Barat
Quote : Ayo kita susul yudi
Registration date : 02.04.08

http://www.adidharma.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by PERSEBAYA on Sat May 03, 2008 10:19 am

kok aku jadi sedih ya....
avatar
PERSEBAYA
Pengangguran Terselubung
Pengangguran Terselubung

Jumlah posting : 1353
Age : 39
Lokasi : Suroboyo
Quote : sepeda ringsek riwayatmu.....
Registration date : 04.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by Denir on Sat May 03, 2008 11:59 am

Sedih kenapa zen?
avatar
Denir
Pengangguran Terselubung
Pengangguran Terselubung

Jumlah posting : 1586
Age : 39
Lokasi : Bandung, Jawa Barat
Quote : Ayo kita susul yudi
Registration date : 02.04.08

http://www.adidharma.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by RIYOMAN on Sun May 04, 2008 1:51 am

egggggg wrote:ternyata yah terbukti seumur2 kita ini mulai galau tentang kehidupan, makna hidup.....pokoknya mulai berfikir kembali tentang hal2 yang lebih filosofis
kecuali saya.. set mind free..soul follow after..
avatar
RIYOMAN
Pengangguran Terselubung
Pengangguran Terselubung

Jumlah posting : 1263
Age : 39
Lokasi : kecamatan Gotham
Quote : terlalu Sadis caramuu
Registration date : 03.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by zulkarnainboman on Mon May 05, 2008 9:52 am

Merayakan Waktu Senggang

Oleh Alfathri Adlin, anggota Forum Studi Kebudayaan ITB, editor Jalasutra dan Pustaka Prabajati.

Kemacetan yang semakin parah, sedotan rutinitas kerja yang monoton dan melelahkan, serta interaksi antar manusia yang tidak ramah. Orang harus berangkat kerja sewaktu masih subuh, agar tidak terjebak macet. Sesampainya di kantor, mereka bekerja. Ketika waktu pulang tiba, banyak yang memilih shalat maghrib di kantor, atau mampir dulu di berbagai tempat hiburan, agar bisa menghindari kemacetan. Sesampainya di rumah, badan sudah terlalu lelah untuk menikmati waktu senggang dengan kembali kepada diri. Bahkan di akhir pekan, mereka cenderung “pergi keluar dari diri”, menuju perangkap eksterioritas yang dipenuhi imaji dan ilusi.

APA kiranya yang terbayangkan saat kita disodori kata “waktu senggang”? Pergi berlibur? Jalan-jalan sambil belanja di mal dan factory outlet? Pergi menonton ke bioskop? Bertamasya? Silahkan bayangkan sendiri kegiatan “waktu senggang” lainnya yang lazim bagi Anda.

Namun, perhatikan lebih seksama, saat ini terlihat bahwa bayangan kita tentang waktu senggang lebih terkait dengan rekreasi. Rasanya nyaris tidak pernah “waktu senggang” dikaitkan lagi dengan –reflektivitas dan kontemplasi–. Sebagaimana disinyalir Bambang Sugiharto, di waktu senggang manusia kontemporer kini cenderung “pergi, ke luar dari diri, menuju perangkap-perangkap eksterior”, bepergian ke tempat-tempat yang disebutkan di atas.

Adalah Josef Pieper, pemikir Jerman, yang mengamati hilangnya pemaknaan manusia kontemporer akan waktu senggang. Waktu senggang merupakan saat bagi manusia untuk “kembali kepada diri”, menikmati hidupnya sebagai manusia. Karenanya, waktu senggang di sini tidak dipahami sebagai saat untuk bermalas-malasan, karena justru merupakan waktu paling produktif.

Sebagaimana dikemukakan Anton Subianto:

“Aristoteles dan Thomas Aquinas berpendapat bahwa waktu senggang adalah saat di mana manusia hidup secara paling penuh. Itulah saat di mana manusia bereksistensi sesuai dengan esensinya sebagai manusia. Maka, pelenyapan waktu senggang dari kehidupan manusia merupakan penghapusan visi kemanusiaan tersebut. Padahal Aristoteles pernah berkata bahwa kita bekerja agar dapat menikmati waktu senggang.”



Sekolah dan Waktu Senggang

Skole dalam bahasa Yunani bermakna “waktu senggang”. Sementara dalam bahasa Latin adalah scola atau otium, yang berarti “luang” atau “rileks”. Kata skole inilah yang diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi school dan leisure. Karenanya, sekolah sebagai tempat pendidikan dan pengajaran semula memiliki konotasi “waktu senggang”.

Pada masa Yunani kuno, masyarakat polisnya terbagi menjadi dua lapisan, yaitu orang bebas dan para budak. Para budak adalah orang-orang yang tenggelam dalam aktivitas fisik berbentuk kerja kasar, di ranah praksis. Perbudakan membuat mereka tak bisa mengelaborasi waktu senggangnya seperti orang bebas. Sementara orang bebas mempunyai banyak waktu senggang. Dalam waktu senggang mereka mengeksplorasi berbagai dimensi kehidupan manusia hingga tingkatan yang mendalam dan mendasar.

Pada zaman Helenik dan Helenistik, juga Abad Pertengahan, dikenal istilah artes liberales yang bermakna “keterampilan bagi orang bebas”, serta mengandung pengertian bahwa suatu aktivitas dihargai dengan kehormatan. Konsep ini dipertentangkan dengan artes serviles yang bermakna “keterampilan bagi budak”, dan mengandung pengertian bahwa suatu aktivitas dihargai dengan upah material. Artes liberales ini biasanya hanya diperuntukkan bagi kaum aristokrat dan klerik, karena merekalah yang memiliki banyak waktu senggang. Namun, di dunia pendidikan kita saat ini, pengertian pendidikan sebagai “waktu senggang”, yaitu untuk kembali ke diri, telah lenyap.

Sebagaimana dituliskan Anton Subianto:

“Menurut Josef Pieper, hilangnya penghargaan pada waktu luang terjadi karena pendidikan (eksakta). Baginya, pendidikan bukanlah semata pengetahuan diskursif dengan tujuan analisis, manipulasi, dan rekonstruksi realitas yang adalah ciri khas ilmu-ilmu eksakta. Pengetahuan ini, melalui investigasi, artikulasi, kombinasi, komparasi, klasifikasi, abstraksi, deduksi, dan justifikasi, mau memberi kita kekuatan dan kekuasaan untuk mengontrol dunia. Sayangnya, pengetahuan macam ini justru tidak berbicara sedikit pun tentang panggilan dunia asli, seruan untuk menjadi manusia.”

Kini, kondisi pendidikan pun semakin diperparah dengan adanya merkantilisme, yaitu, komersialisasi pengetahuan dan informasi di era kapitalisme global. Pepatah Latin berbunyi: “non scuola sed vitae discimus”, kita belajar bukan untuk sekolah (ujian, nilai, keahlian, kepintaran, ijazah, kemudahan mendapat pekerjaan), tetapi pertama-tama adalah untuk hidup. Namun, saat ini pendidikan lebih dipandang sebagai investasi untuk memperoleh “upah material” yang besar di kemudian hari.

Bahkan, dalam salah satu pidatonya, Presiden SBY menghimbau agar para pendidik bisa mengarahkan dan menyiapkan para peserta didiknya untuk membuka lapangan kerja. Seolah pendidikan berfungsi agar menjadikan orang kaya raya. Padahal, konon sembilan dari sepuluh pengusaha sukses bukanlah sarjana. Bukan hanya itu. Banyak pedagang, baik kaki lima maupun toko kecil pinggir jalan, yang sukses mendulang untung hingga jutaan rupiah per harinya. Namun, kasarnya, untuk sukses berdagang seperti itu, tidak lulus SD pun bukan masalah.

Hal ironis lainnya ditemukan dalam salah satu liputan suplemen Kampus yang meliput tentang kebiasaan para mahasiswa di Bandung menghabiskan “waktu senggang” sesudah kuliah untuk clubbing atau nongkrong di mal dan restoran cepat saji. Alasan yang mereka kemukakan umumnya adalah “untuk melepaskan penat dan stress setelah kuliah seharian”. Ini sebenarnya mengherankan. Permasalahannya, mayoritas mahasiswa di Indonesia tidak dikenal sebagai pembaca buku, memiliki gairah keilmuan yang besar, atau sering mengunjungi perpustakaan. Banyak dari mereka bahkan bisa lulus menjadi sarjana tanpa pernah menamatkan satu buku keilmuan yang menjadi pilihan kuliahnya, dan skripsi yang asal jadi.

Bukan hanya itu, di berbagai kompleks perumahan yang banyak menjadi tempat kost mahasiswa, biasanya menjamur tempat bermain dan menyewa playstation, atau warnet yang menyediakan online game. Para mahasiswa sering sekali tampak bersaing dengan anak-anak memenuhi tempat tersebut. Sepertinya berlebihan apabila belajar seharian di bangku kuliah telah membuat mereka sumpek dan stress.

Penyebab ketidakbergairahan para mahasiswa tersebut memang banyak. Salah satunya adalah atmosfir pendidikan yang feodal, tertutup, enggan berubah mengikuti progres keilmuan. Selain itu, pola pendidikan dan pendidik yang tidak inspiratif (pepatah: “guru yang baik itu mengajari, guru sejati itu memberi inspirasi”). Dan yang paling mendasar adalah banyaknya mahasiswa ’salah jurusan’ dikarenakan tidak ditanamkan visi tentang fungsi pendidikan bagi hidupnya: yang ditanamkan hanyalah pandangan bahwa pendidikan bisa membuat kaya raya.

Permasalahannya, di kalangan pendidik seringkali mengakar kuat keyakinan bahwa pendidikan bisa mencetak seseorang menjadi apa pun. Banyaknya mahasiswa yang tidak bersemangat kuliah, bahkan drop out, mengindikasikan bahwa tidak semua orang akan menemukan energi minimalnya di sembarang bidang. Energi minimal merupakan semacam bayangan jati diri individu. Itu merupakan kemampuan utama yang dimiliki seseorang yang mengalir mudah ketika mengerjakan sesuatu.

Karena itu, sudah seharusnya pendidikan dikembalikan kepada semangat “waktu senggang”, yaitu dalam pengertian “kembali kepada diri”. Pendidikan seharusnya bisa mengantarkan peserta didiknya untuk mengenali energi minimalnya. Dengan begitu, peserta didik bisa merintis jalan ke arah pengenalan diri autentiknya. Maka, pendidikan pun akan berfungsi sebagai panggilan untuk menjadi manusia.
avatar
zulkarnainboman
Kode 3
Kode 3

Jumlah posting : 311
Age : 40
Registration date : 07.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by zulkarnainboman on Mon May 05, 2008 9:52 am

Kerja dan Waktu Senggang

Waktu senggang sebenarnya dipahami juga sebagai “human action on holiday” (holy day alias hari kudus). Hal ini mengingatkan kembali kepada tradisi hari Sabat Bani Israil: manusia harus beristirahat di hari ke tujuh sebagaimana Tuhan berhenti mencipta di hari ke tujuh. Namun, beristirahat di waktu senggang bukanlah diam pasif bermalas-malasan, tetapi mengkuduskan hari Tuhan yang juga merupakan hari manusia.

Namun, seperti dikemukakan di atas, manusia kontemporer banyak yang telah kehilangan waktu senggang. Akibatnya mereka semakin jarang bersentuhan dengan “totalitas diri”-nya. Dalam waktu senggang, manusia punya banyak kesempatan berkontemplasi tentang yang sublim, yaitu, pengalaman eksistensial penting yang menjadi akar makna hidup. Seperti diidentifikasi oleh Bambang Sugiharto:

“…dalam budaya imaji audio-visual elektronik agaknya ‘yang sublim’ itu adalah histeria tanpa alasan atas pesona fiksi imaji-imaji itu, keterpesonaan tak terjelaskan terhadap kekuasaan dan kecerdasan elektronik. Baudrillard menuding pasar imaji sebagai sekadar tendensi untuk menguasai dan menggoda saja, tanpa makna, tanpa dasar dan tanpa acuan. Bila itu benar, maka yang terjadi dalam pasar global kini hanyalah pemompaan adrenalin tanpa kepuasan, pemancingan kuriositas tanpa pernah mendapatkan, pembentukan keinginan tanpa tujuan. Dalam budaya macam ini memang tak ada tempat bagi kontemplasi dan refleksi atas substansi. Segala energi terserap oleh pesona eksterioritas hasrat dan imaji (kerja, belanja, mengkonsumsi, pergi-pergi).”

Kadang menakjubkan melihat berbondong-bondong orang Jakarta merayakan waktu senggang dengan berbelanja di berbagai factory outlet Bandung. Seperti tengah menggeluti suatu urusan yang tak pernah tuntas setiap minggunya. Hal itu mengisyaratkan bahwa kini waktu senggang hanya bermakna “jeda” demi peluang lebih banyak untuk mengonsumsi, dan kebudayaan pun dikuasai oleh pengelolaan ilusi (budaya media dan konsumerisme).

Salah satu penyebab hilangnya pemaknaan waktu senggang sebagai hari kudus untuk kembali kepada diri adalah perubahan pola kerja manusia. Di kota-kota besar tidak begitu sulit untuk menemukan orang-orang yang terjebak “hidup untuk kerja” ketimbang “kerja untuk hidup”. Pieper mengutip Thomas Aquinas:

“(Yang disebut) ‘kemalasan’ justru adalah terjadinya kemandulan ketika menggeluti waktu senggang, dan kehilangan kejedaan menyebabkan pengkultusan terhadap kerja, karena kerja di pandang hanya sebagai demi kerja semata.”

Dunia manusia menjadi begitu gaduh dengan urusan bisnis dan kerja.

Pieper mensinyalir bahwa pada masa ini kerja telah menjadi sebentuk “agama”. Sebagaimana dikemukakan Fransiskus Simon:

“Kerja menjadi satu-satunya sarana yang dimutlakkan, hingga tak heran bahwa ia lantas mudah mendehumanisasi kemanusiaan, seperti pesan dibalik ungkapan ‘kita mesti bekerja seperti Herkules’. Kerja tak lagi menjadi ekspresi eksistensi manusia, tak lagi bernilai sakral, tak lagi mempunyai fungsi sosial. Kerja telah menginvasi berbagai ranah kehidupan atas nama prinsip utilitarian, maka manusia terjerembab ke lembah rutinitas, otomatisasi, dan mekanisasi.”

Kini, peradaban manusia identik dengan kerja total, dan dunia pendidikan pun berperan mendukung hal tersebut. Karenanya, Pieper menggunakan mitos Sisifus, yang dihukum Dewa untuk terus menerus menaikan batu ke atas gunung dan menggelindingkannya, sebagai analogi bahwa kerja merupakan rantai abadi yang mengikat manusia, tanpa manusia itu sendiri menikmati buah makna dari pekerjaannya. Waktu senggang yang dipahami dalam konteks nilai-nilai kerja seperti itu lebih tampak sebagai kemalasan (untuk kembali kepada diri).

Di Amerika, sebagai contoh, ada pengacara yang tidak pernah istirahat makan siang. Dia makan siang sambil berjalan ke sana kemari untuk bekerja. Atau suami istri yang saking sibuknya bekerja, harus membuat janji untuk bisa meluangkan waktu berduaan.

Berbagai kajian terkini menunjukkan bahwa jumlah waktu yang diabdikan untuk bekerja di Amerika Serikat sedang berada di puncaknya. Namun terdapat pula berbagai trend teknologi yang dapat berujung pada pengurangan hari kerja. Sebuah artikel dalam New York Times (24 November 1993) justru menunjukkan bahwa ada gerakan serius di Eropa untuk membatasi kerja menjadi empat hari seminggu.

Bayangkan Jakarta. Kemacetan yang semakin parah, sedotan rutinitas kerja yang monoton dan melelahkan, serta interaksi antar manusia yang tidak ramah. Orang harus berangkat kerja sewaktu masih subuh, agar tidak terjebak macet. Sesampainya di kantor, mereka bekerja. Ketika waktu pulang tiba, banyak yang memilih shalat maghrib di kantor, atau mampir dulu di berbagai tempat hiburan, agar bisa menghindari kemacetan. Setelah agak malam, baru mereka mulai merayap pulang. Permasalahannya, pulang sore atau agak malam, biasanya sama-sama sampai di rumah pada waktu yang sama juga. Sesampainya di rumah, badan sudah terlalu lelah untuk menikmati waktu senggang dengan kembali kepada diri. Bahkan di akhir pekan, mereka cenderung “pergi keluar dari diri”, menuju perangkap eksterioritas yang dipenuhi imaji dan ilusi.

Zamzam AJT pernah menguraikan bahwa bagi yang beragama Islam, ada mekanisme harian yang merupakan saat bagi penganutnya untuk “menikmati waktu senggang”, yaitu shalat. Dalam hadis disebutkan bahwa “Shalat adalah mi’raj-nya mu’minin“. Zamzam menjelaskan:

“Maka, di dalam kata shalat tersirat suatu dinamika atau proses perjalanan yang sifatnya menaik (‘uruj), dan secara eksplisit bentuk ibadah shalat yang dicontohkan Nabi Saw mengisyaratkan adanya perubahan bertahap dari suatu state ke state yang lain secara tertib. Serangkaian kalimah takbir yang diucapkan dalam ibadah shalat menunjukkan suatu proses kenaikan (mi’raj) bertahap.”

Shalat bukanlah jeda yang terlalu sering mengganggu ritme kerja. Justru, setelah shalat (yang khusyu’), orang akan merasakan kemudahan meneruskan pekerjaannya. Selain itu:

“Istilah shalat melampaui dari sekadar nama suatu ibadah mahdlah terpenting di dalam agama Islam. Makna spiritual dari kata shalat mencerminkan suatu proses “pengorbitan” setiap ciptaan Allah. Secara spesifik terhadap poros dari suatu amr Allah Swt . Ini diisyaratkan oleh An-Nûr [24]: 41…”

Q. S. 24 : 41

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya ber-tasbih kepada Allah siapa pun yang ada di petala langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalat-nya dan cara tasbih-nya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Q. S. An-Nuur [24] : 41)

Dalam dua penelitian yang dilakukan terpisah oleh Budi Fajar AM dan Herry Mardianto Syakir, mereka memaparkan tentang aktivitas pengikut thariqah di Jakarta dan Bandung. Sudah menjadi kelaziman bahwa pada akhir pekan, banyak orang dari berbagai agama mengikuti aktivitas keagamaan. Begitu juga di kalangan umat Islam.

Namun, ada satu hal sangat spesifik di komunitas thariqah tersebut, yaitu waktu senggang yang mereka jalani secara eksplisit dinyatakan untuk “kembali kepada diri dan mengenal diri”. Mereka menjalani riyadhah untuk “melatih agar jiwa (nafs) bisa bertahap lepas dari keterikatan terhadap jasad”, setiap minggu mengunjungi mursyidnya untuk mengaji dan menerima bimbingan suluk agar bisa mengena diri yang berarti juga mengenal Allah, serta mengadakan pengajian tafsir Al-Quran yang memuat banyak khazanah tentang “pengenalan diri”. Kedua penelitian ini setidaknya memperlihatkan bahwa di antara deru kebisingan dunia kerja kota besar, masih ada orang-orang yang berupaya untuk menghindari waktu senggangnya dari perangkap eksterioritas.

Karenanya, sudah semestinya ideologi merkantilisme dihilangkan dari dunia pendidikan. Pendidikan dikembalikan sebagai “waktu senggang untuk kembali kepada diri” dengan mengolah energi minimal peserta didiknya. Dengan demikian, diharapkan kelak nantinya mereka pun akan bekerja di bidang energi minimalnya, menghasilkan karya-karya yang berguna dan bukan “asal mendapat upah material”. Sehingga, manusia bisa senantiasa merayakan waktu senggangnya baik dalam dunia pendidikan maupun kerja, mencelup hari-harinya dengan aura “hari kudus”-nya.
avatar
zulkarnainboman
Kode 3
Kode 3

Jumlah posting : 311
Age : 40
Registration date : 07.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by PERSEBAYA on Mon May 05, 2008 1:07 pm

WAduhh dhod....ra sempet moco.....mung Preian ae tak wocone....
(halh dhod....ngga sempet bace....ntar kalo liburan a.k.a holyday baru aku baca)
avatar
PERSEBAYA
Pengangguran Terselubung
Pengangguran Terselubung

Jumlah posting : 1353
Age : 39
Lokasi : Suroboyo
Quote : sepeda ringsek riwayatmu.....
Registration date : 04.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by Firmen on Mon May 05, 2008 6:15 pm

ck..ck..ck...ck..gilee bener
avatar
Firmen
Kode 4
Kode 4

Jumlah posting : 496
Age : 39
Registration date : 03.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by zulkarnainboman on Tue May 06, 2008 8:24 am

PERSEBAYA wrote:WAduhh dhod....ra sempet moco.....mung Preian ae tak wocone....
(halh dhod....ngga sempet bace....ntar kalo liburan a.k.a holyday baru aku baca)


aku yo ra pati o mudheng kok zen Very Happy tapi intine yo ngono kuwi lah

(saya juga ga terlalu ngerti kok zen Very Happy intinya mah yah jiga kitu we)

jawa mode off
avatar
zulkarnainboman
Kode 3
Kode 3

Jumlah posting : 311
Age : 40
Registration date : 07.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by Firmen on Tue May 06, 2008 11:11 am

Waaahh.. mas boman mulai nyerempet-nyerempet neeh..
avatar
Firmen
Kode 4
Kode 4

Jumlah posting : 496
Age : 39
Registration date : 03.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by PERSEBAYA on Wed Jun 18, 2008 11:11 am

sudah reksadana aja....fortis
avatar
PERSEBAYA
Pengangguran Terselubung
Pengangguran Terselubung

Jumlah posting : 1353
Age : 39
Lokasi : Suroboyo
Quote : sepeda ringsek riwayatmu.....
Registration date : 04.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by zulkarnainboman on Wed Jun 18, 2008 4:28 pm

reksadana pilihan tepat
investasi jangka panjang 10 th cukup efektif unit penyertaan awal cukup ringan
tidaka da pajak cuman resiko ditnaggung sendiri
ada beberpa pilihan dana anda dinvestaskan dalam instrumen saham, pasar uang , obligasi dll

misal pendapatan tetap fix income
gabungan (saham dan obligasi)
pasar uang

sebanarnya investasi adalah semua jenis usaha yang kita lakukan sekarang yang kelak menuai hasil /memberikan hasil yang bisa kita nikamati di kemudian hari seperti...
1. membacs buku yang tepat bukan membaca stensilan hehheheh
2. beribadah
3. dll

ya bgtulah
avatar
zulkarnainboman
Kode 3
Kode 3

Jumlah posting : 311
Age : 40
Registration date : 07.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by zulkarnainboman on Thu Jun 19, 2008 2:56 pm

kalao kita punya anak psti mau beliin untuk kesehatanya pendidikanya pasti yang terbaik ini karena apa karena kita memepunyai harapan yang baik untuk anak kita di masa depan nanti makanya berpapun duit atau effort yang akan kita keluarkan
mungkin investing kaya gitu bukan sekdar membelanjakan/membeli/menukar dengan sesuatu

yang umum2 aja

btw reksadana rekomendet
1.danareksa
2. pundimas?
3 valburry
4.........
5......

ada yang bisa melengkapi
avatar
zulkarnainboman
Kode 3
Kode 3

Jumlah posting : 311
Age : 40
Registration date : 07.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by NikkConan on Mon Jun 30, 2008 2:42 am

.

Kalau kesehatan dan kebugaran, termasuk investasi gak, Dhod?
Yang jelas, menulis pake struktur penulisan yang logis,
adalah manifestasi investasi kepercayaan, Dhod!


.


Terakhir diubah oleh NikkConan tanggal Mon Jun 30, 2008 1:58 pm, total 2 kali diubah

_________________
avatar
NikkConan
Pengangguran Terselubung
Pengangguran Terselubung

Jumlah posting : 1501
Age : 39
Lokasi : Himalaya
Quote : \"TUA-TUA KELADI, MAKIN TUA MAKIN BLOODY\"
Registration date : 05.04.08

http://dreddzeist.blogspot.com/

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by PERSEBAYA on Mon Jun 30, 2008 6:08 am

betul! jangan kaya Rudjay!
avatar
PERSEBAYA
Pengangguran Terselubung
Pengangguran Terselubung

Jumlah posting : 1353
Age : 39
Lokasi : Suroboyo
Quote : sepeda ringsek riwayatmu.....
Registration date : 04.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by mutathohirin on Mon Jun 30, 2008 9:30 am

emang kenapa Rudjay Zend?
*mancing ahh...
avatar
mutathohirin
Pengangguran Terselubung
Pengangguran Terselubung

Jumlah posting : 1268
Age : 41
Lokasi : surabaya
Quote : Hero From The East lagi nunggu petir
Registration date : 04.04.08

Kembali Ke Atas Go down

Re: Spending Vs Investing

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 1 dari 2 1, 2  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik